Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28
Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya
seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari
lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini
merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun
tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi
ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu
untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang
Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat
Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian
yaitu pada 17 Agustus 1945.
ISI SUMPAH PEMUDA :
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
PANITIA :
Dalam upaya mempersatu wadah organisasi pemuda dalam satu wadah telah
dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Oleh sebab itu, tanggal 20
Februari 1927 telah diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum
mencapai hasil yang final.
Kemudian pada 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi, dan dilanjutkan
pada 12 Agustus 1928. Pada pertemuan terakhir ini dihadiri semua
organisasi pemuda dan diputuskan untuk mengadakan Kongres pada bulan
Oktober 1928, dengan susunan panitia dengan setiap jabatan dibagi kepada
satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan)
sebagai berikut:
Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI)
Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
Pembantu IV: Johannes Leimena (Jong Ambon)
Pembantu V: Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)
TEMPAT :
Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda,
adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong .Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974.
Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda
DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.
sumber : wikipedia Indonesia
SEJARAH SAMIN
Ada yang kenal dengan budaya Samin ga?? yang dari blora itu lhoooo... budaya itu sangat terkenal dimasyarakat sampai sampai ada filmya yang berjudul "lari dari blora",.. ada yang pernah liat?? kalo penasaran nih dia sejarahnya >
Samin Surosentiko dan Ajarannya
Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial.Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914.
Samin Surosentiko dan Ajarannya
Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial.Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914.
Tahun
1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin.
Wongsorejo, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik
Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar
Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan baberapa
pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.
Tahun
1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu
pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan
Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati.
Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan.
Tahun
1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena
Pemerintah Kolonial belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi
orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi,
demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun.
Di
Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau
kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati
orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi
Di
Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah
Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak.
Tahun
1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini
disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh
Dalam
naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul
Serat Punjer Kawitan, disebut-sebut juga kaitan Samin Surosentiko dengan
Adipati Sumoroto
Dari
data yang ditemukan dalam Serat Punjer Kawitan dapat disimpulkan bahwa
Samin Surosentiko yang waktu kecilnya bernama Raden Kohar , adalah
seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar dikalangan rakyat
pedesaan. Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah
Kolonial Belanda dengan cara lain.
Samin Surosentiko dan Ajarannya
Ajaran Kebatinan
Menurut
warga Samin di Desa Tapelan, Samin Surosentiko dapat menulis dan
membaca aksara Jawa, hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku
peninggalan Samin Surosentiko yang diketemukan di Desa Tapelan dan
beberapa desa samin lainnya.
Khusus
di Desa Tapelan buku-bukun peninggalan Samin Surosentiko disebut SERAT
JAMUSKALIMOSODO, serat Jamuskalimosodo ini ada beberapa buku. Di
antaranya adalah buku Serat Uri-uri Pambudi, yaitu buku tentang
pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi.
Ajaran
kebatinan Samin surosentiko adalah perihal “ manunggaling kawulo Gusti
atau sangkan paraning dumadi “. Menurut Samin Surosentiko , perihal
manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai “ rangka
umanjing curiga “( tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya ).
Dalam buku Serat Uri-uri Pambudi diterangkan sebagai berikut :
“Tempat
keris yang meresap masuk dalam kerisnya mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an.
Hal ini menunjukkan pamor (pencampuran) antara mahkluk dan Khaliknya
yang benar-benar sejati. Bila mahkluk musnah, yang ada hanyalah Tuhan
(Khalik). Senjata tajam merupakan ibarat campuran yang menunjukkan bahwa
seperti itulah yang disebut campuran mahkluk dan Khaliknya. Sebenarnya
yang dinamakan hidup hanyalah terhalang oleh adanya badan atau tubuh
kita sendiri yang terdiri dari darah, daging dan tulang. Hidup kita ini,
yang menghidupinya adalah yang sama-sama menjadi pancer (pokok) kita.
Hidup yang sejati itu adalah hidup yang menghidupi segala hal yang ada
di semesta alam.”
Di tempat lain Samin Surosentiko menjelaskan lagi sebagai berikut :
“
Yang dinamakan sifat Wisesa (penguasa utama/luhur) yang bertindak
sebagai wakil Allah, yaitu ingsun (aku, saya), yang membikin rumah
besar, yang merupakan dinding (tirai) yaitu badan atau tubuh kita (yaitu
yang merupakan realisasi kehadirannya ingsun). Yang bersujud adalah
mahkluk, sedang yang disujudi adalah Khalik, (Allah, Tuhan). Hal ini
sebenarnya hanya terdindingi oleh sifat. Maksudnya, hudip mandiri itu
sebenarnya telah berkumpul menjadi satu antara mahkluk dan Khaliknya.”
Selanjutnya
menurut Samin Surosentiko, yang bertindak mencari sandang pangan kita
sehari-hari adalah “ Saderek gangsal kalima pancer” adapun jiwa kita
diibaratkan oleh Samin sebagai mandor. Seorag mandor harus mengawasi
kuli-kulinya. Atau lebih jelasnya dikatakan sebagai berikut:
“ Gajah Seno saudara Wrekodara yang berwujud gajah. Jelasnya saudara yang berjumlah lima itu mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Hal ini perlu dicapai (yaitu tiga saudara, empat dan lima
pokoknya). Adapun yang bekerja mencari sandang pangan setiap hari itu
adalah saudara kita berlima itu. Adapun jiwa (sukma) kita bertindak
sebagai mandor. Itulah sebabnya mandor harus berpegang teguh pada
kekuasaan yang berada ditangannya untuk mengatur anak buahnya, agar
semuanya selamat. Sebaliknya apabila anak buahnya tadi betindak salah
dan tindakan tersebut dibiarkan saja, maka lama kelamaan mereka kian
berbuat seenaknya. Hal ini akan mengakibatkan penderitaan.
Pengandaian
jiwa sebagai mandhor dan sedulur papat kalima pancer sebagai kuli-kuli
tersebut diatas adalah sangat menarik. Kata-kata ini erat hubungannya
dengan kerja paksa/kerja rodi di hutan-hutan jati di daerah Blora dan
sekitarnya. Pekerja rodi terdiri dari mandor dan kuli. Mandhor berfungsi
sebagai pengawas, sedangkan kuli berfungsi sebagai pekerja. Pemakaian
kata yang sederhana tersebut oleh Samin Surosentiko dikandung maksud
agar ajarannya dapat dimengerti oleh murid-muridnya yang umumnya adalah
orang desa yang terkena kerja paksa.
Menurut
Samin Surosentiko, tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan.
Jadi apa yang dialami oleh manusia di dunia adalah kehendak Tuhan. Oleh
karena itu sedih dan gembira, sehat dan sakit, bahagia dan sedih, harus
diterima sebagai hal yang wajar. Hal tersebut bisa dilihat pada
ajarannya yang berbunyi :
“
..Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan di dunia untuk
menambah kendahan jagad raya. Dalam hubungan ini masyarakat harus
menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah. Oleh
karena itu apabila manusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih
dan gembira, sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan,
sebab manusia terikat dengan perjanjiannya. Yang terpenting adalah
manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan, yaitu memahami
pada asal-usulnya masing-masing….”
Samin
Surosentiko juga mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebajikan,
kejujuran dan kesabaran. Murid-muridnya dilarang mempunyai rasa dendam.
Adapun ajaran selengkapnya sebagai berikut:
“
…Arah tujuannya agar dapat berbuat baik dengan niat yang
sungguh-sungguh, sehingga tidak ragu-ragu lagi. Tekad jangan sampai
goyah oleh sembarang godaan, serta harus menjalankan kesabaran lahir dan
batin, sehingga bagaikan mati dalam hidup. Segala tindak-tanduk yang
terlahir haruslah dapat menerima segala cobaan yang datang padanya,
walaupun terserang sakit, hidupnya mengalami kesulitan, tidak disenangi
orang, dijelek-jelekkan orang, semuanya harus diterima tanpa gerutuan,
apalagi sampai membalas berbuat jahat, melainkan orang harus selalu
ingat pada Tuhan…,”
Ajaran
di atas dalam tradisi lisan di desa Tapelan dikenal sebagai “
angger-angger pratikel” (hukum tindak tanduk), “ angger-angger pengucap “
(hukum berbicara), serta “ angger-angger lakonana” (hukum perihal apa
saja yang perlu dijalankan).
Hukum
yang pertama berbunyi “Aja dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja
kutil jumput, mbedog colong.” Maksudnya, warga samin dilarang berhati
jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil
milik orang.
Hukum ke dua berbunyi “ Pangucap saka lima
bundhelane ana pitu lan pengucap saka sanga budhelane ana pitu.” Maksud
hukum ini , orang berbicara harus meletakkan pembicaraannya diantara
angka lima,
tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka.
Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang
tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain. Kata-kata yang
tidak senonoh dan dapat menyakitkan orang lain dapat mengakibatkan
hidup manusia ini tidak sempurna.
Adapun
hukum yang ke tiga berbunyi “ Lakonana sabar trokal. Sabare
dieling-eling. Trokale dilakoni.” Maksudnya, warga Samin senantiasa
diharap ingat pada kesabaran dan berbuat “ bagaikan orang mati dalam
hidup “
Menurut
Samin Surosentiko, semua ajaran diatas dapat berjalan denganbaik asalkan
orang yang menerima mau melatih diri dalam hal samadi. Ajaran ini
tertuang dalam Serat Uri-uri Pambudi yang berbunyi sebagai berikut :
“…Adapun batinnya agar dapat mengetahui benar-benar akan perihal
peristiwa kematiannya, yaitu dengan cara samadi, berlatih “mati”
senyampang masih hidup (mencicipi mati) sehingga dapat menanggulangi
segala godaan yang menghalang-halangi perjalanannya bersatu dengan
Tuhan, agar upaya kukuh, dapat terwujud, dan terhindar dari bencana.”
Selanjutnya
menurut Samin Surosentiko, setelah manusia meninggal diharapkan roh
manusia yang meninggal tadi tidak menitis ke dunia, baik sebagai
binatang( bagi manusia yang banyak dosa) atau sebagai manusia (bagi
manusia yang tidak banyak dosa), tapi bersatu kembali dengan Tuhannya.
Hal ini diterangkan Samin Surosentiko dengan contoh-contoh yang sulit
dimengerti orang apabila yang bersangkutan tak banyak membaca buku-buku
kebatinan. Demikian kata Samin Surosentiko :
“
…Teka-teki ini menunjukkan bahwa jarak dari betal makmur ke betal
mukaram sejengkal, dan dari betal mukaram ke betal mukadas juga
sejengkal. Jadi triloka itu jaraknya berjumlah tiga jengkal. Kelak
apabila manusia meninggal dunia supaya diusahakan tidak terkuasai oleh
triloka. Hal ini seperti ajaran Pendeta Jamadagni. Tekad pendeta
Jamadagni yang ingin meninggalkan dunia tanpa terikat oleh triloka itu
diceritakan oleh Serat Rama. Pada awalnya ingin menitis pada bayi yang
lahir (lahir kembali kedunia). Oleh karena itulah pada waktu meninggal
dunia dia berusaha tidak salah jalan, yaitu kembali ke rahim wanita
lagi. (jangan sampai menitis kembali pada bayi, lahir kembali ke
dunia).”
Dari
keterangan diatas dapatlah diketahiu bahwa Samin Surosentiko tidak
menganut faham ‘Penitisan’ tapi menganut faham ‘ manunggaling kawulo
Gusti’ atau ‘sangkan paraning dumadi’.
Dari
ajaran-ajaran tertulis di atas jelas kiranya bahwa Samin Surosentiko
adalah seorang “theis”. Keparcayaan pada Tuhan, yang disebutnya dengan
istilah-istilah Gusti, Pangeran, Allah, Gusti Allah, sangatlah kuat, hal
ini bisa dilihat pada ajarannya :
“
Adapun Tuhan itu ada, jelasnya ada empat. Batas dunia disebelah utara,
selatan, timur, dan barat. Keempatnya menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada
(adanya semesta alam dan isinya itu juga merupakan bukti bahwa Tuhan itu
ada….”
Demikianlah
cuplikan ajaran Samin Surosentiko yang berasal dari Serat Uri-uri
Pambudi. Selanjutnya akan dijelaskan ajaran Samin Surosentiko yang
terdapat dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten. Buku ini maknanya
pengukuhan kehidupan yang sejati.
Ajaran
dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten ditulis dalam bentuk puisi tembang,
yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa. Disini yang akan
dikutip adalah sebuah tembang Pangkur yang mengandung ajaran perihal
Perkawainan. Adapun tembang Pangkur yang dimaksud seperti dibawah ini :
“ Saha malih dadya garan,
anggegulang gelunganing pembudi,
palakrama nguwoh mangun,
memangun traping widya,
kasampar kasandhung dugi prayogantuk,
ambudya atmaja tama,
mugi-mugu dadi kanthi.”
Menurut
Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu
merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk
menciptakan “Atmaja Tama” (anak yang mulia). Dalam ajaran Samin , dalam
perkawinan seorang temanten laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat,
yang berbunyi kurang lebih demikian : “ Sejak Nabi Adam pekerjaan saya
memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya
berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”
Demikian
beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada
pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga samin.
Ajaran Politik
Dalam
ajaran politiknya Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk
melawan Pemerintahan Koloniak Belanda. Hal ini terwujud dalam sikap :
1.Penolakan membayar pajak
2.penolakan memperbaiki jalan
3.penolakan jaga malam (ronda)
4.penolakan kerja paksa/rodi
Samin
Surosentiko juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang
dalam Serat Pikukuh Kasajaten, yaitu sebuah Negara akan terkenal dan
disegani orang serta dapat digunakan sebagai tempat berlindung rakyatnya
apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup
dalam perdamaian.
Dalam
salah satu ceramahnya yang dilakukan tanah lapang Desa Bapangan Blora,
pada malam Kamis legi, 7 Pebruari 1889 yang menyatakan bahwa tanah Jawa
adalah milik keturunan Pandawa. Keturunan Pandawa adalah keluarga
Majapahit. Sejarah ini termuat dalam Serat Punjer Kawitan. Atas dasar
Serat Punjer Kawitan itulah, Samin Surosentiko mengajak
pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintah Belanda. Tanah Jawa bukan
milik Belanda. Tanah Jawa adalah tanah milik “ wong Jawa “. Oleh karena
itulah maka tarikan pajak tidak dibayarkan. Pohon-pohon jati di hutan
ditebangi, sebab pohon jati dianggap warisan dari leluhur Pandawa. Tentu
saja ajaran itu menggegerkan Pemerintahan Belanda, sehingga Pemerintah
Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin ajaran Samin.
Geger
Samin atau Pergerakan Samin yang dipimpin oleh Samin Surosentiko
sebenarnya bukan saja desebabkanoleh faktor ekonomis saja, akantetapi
juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Yang jelas pemberontakan
melawan Pemerintahan Kolonial Belanda didasarkan pada kebudayaan Jawa
yang religius.. Dengan demikian ajaran Samin surosentiko bukanlah ajaran
yang pesimitis, melainkan ajaran yang penuh kreatifitas dan keberanian.
Samin
Surosentiko yang hidup dari tahun 1859 sampai tahun 1914 ternyata telah
memberi warna sejarah perjuangan bangsa, walaupun orang-orang di
daerahnya, Blora yang bukan warga Samin mencemoohkannya, tapi sejarah
telah mencatatnya, dia telah mampu menghimpun kekuatan yang luar biasa
besarnya. Ajaran-ajarannya tidak hanya tersebar didaerah Blora saja,
tetapi tersebar di beberapa daerah lainnya, seperti : Bojonegoro, Tuban,
Lamongan, Madiun, Jember, Banyuwangi, Purwodadi, Pati, Rembang, Kudus,
Brebes, dan lain-lain.
DENGAN DEMIKIAN SAMIN SUROSENTIKO ADALAH PAHLAWAN LOKAL YANG PERLU DIPERHATIKAN JASA-JASANYA.
sumber : http://herisys.blogspot.com
Sejarah Singkat IDUL ADHA
“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.
Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".
Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”
Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).
Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.
Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.
Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.
Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.
“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.
“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.
Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.
“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.
“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.
“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.
“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.
“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.
Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”
“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.
“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.
Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha)
Sumber : http://www.masrahmat.com
Malam Ajaib Udinese di Anfield
LIVERPOOL – Kemenangan sensasional 3-2 Udinese atas
tuan rumah Liverpool di stadion penuh sejarah seperti Anfield langsung
menghadirkan euforia di kubu La Zebrette. Tak heran bila pelatih
Francesco Guidolin menyebutnya sebagai malam magis.
Kemenangan tersebut terasa semakin manis karena Udinese tertinggal lebih dulu 0-1 di babak pertama dan mendapat tekanan hebat dari Luis Suarez dkk. di akhir-akhir pertandingan.
Rahasia dari kemenangan La Zebrette adalah kata-kata yang dikeluarkan Guidolin saat jeda turun minum. Melihat anak-anak asuhnya lesu dan gontai, Guidolin pun melontarkan kata-kata penuh motivasi di ruang ganti.
“Kami memainkan babak kedua yang hebat dalam malam penuh magis yang akan memberi kami suntikan moral dari segi hasil dan kepercayaan diri,” kata Guidolin kepada Mediaset Premium.
“Saat ini saya begitu senang. Saya ingin merayakan ini bersama dengan anak saya yang tinggal di Inggris, apalagi kami jarang bertemu,” ujar Guidolin.
“Saat turun minum saya mencoba mengeluarkan yang terbaik dari para pemain, yang saya lihat agak tertekan dan kehilangan semangat. Kami berbicara sekitar lima menit dan juga mengubah taktik, dan 30 detik babak kedua dimulai kami langsung mencetak gol,” tutur Guidolin.
“Selebrasi Toto bertujuan untuk berterima kasih atas apa yang dia dengar di ruang ganti. Saya tahu jika kami bermain baik, maka akan meraih sesuatu yang penting,” pungkas allenatore berusia 57 tahun itu.
Kemenangan tersebut terasa semakin manis karena Udinese tertinggal lebih dulu 0-1 di babak pertama dan mendapat tekanan hebat dari Luis Suarez dkk. di akhir-akhir pertandingan.
Rahasia dari kemenangan La Zebrette adalah kata-kata yang dikeluarkan Guidolin saat jeda turun minum. Melihat anak-anak asuhnya lesu dan gontai, Guidolin pun melontarkan kata-kata penuh motivasi di ruang ganti.
“Kami memainkan babak kedua yang hebat dalam malam penuh magis yang akan memberi kami suntikan moral dari segi hasil dan kepercayaan diri,” kata Guidolin kepada Mediaset Premium.
“Saat ini saya begitu senang. Saya ingin merayakan ini bersama dengan anak saya yang tinggal di Inggris, apalagi kami jarang bertemu,” ujar Guidolin.
“Saat turun minum saya mencoba mengeluarkan yang terbaik dari para pemain, yang saya lihat agak tertekan dan kehilangan semangat. Kami berbicara sekitar lima menit dan juga mengubah taktik, dan 30 detik babak kedua dimulai kami langsung mencetak gol,” tutur Guidolin.
“Selebrasi Toto bertujuan untuk berterima kasih atas apa yang dia dengar di ruang ganti. Saya tahu jika kami bermain baik, maka akan meraih sesuatu yang penting,” pungkas allenatore berusia 57 tahun itu.

